19 Jun 2012

TENANG DI TENGAH BADAI


 TENANG DI TENGAH BADAI
(Seri II dari Kis 27)

Anda bukan membutuhkan “Pengurangan” yang Anda butuhkan adalah “Ketenangan”

Dalam Kis 27:21-44, Alkitab memberitahu kita mengenai Paulus, saat berada di tengah badai yang menerpa. Telah empat belas hari lamanya, ia terombang-ambing di hantam gelombang, ia lapar, haus, basah, kedinginan, dan kaku direndam air laut, namun tampaknya semua belum berakhir. Gelombang itu terus menghantam buritan kapal, hingga hancur berantakan. Anda dapat melihat bahwa inilah situasi dimana segala sesuatu kacau dan berantakan. Pada saat Anda membuat sebuah keputusan, Anda berharap keputusan itu akan membawa Anda lebih baik, tetapi sekarang Anda mendapati semuanya menjadi kacau, dan berantakan. Apa yang Anda lakukan, saat segala sesuatu berantakan, dan keadaan tampak tetap melawan Anda?

          Perhatikan respon Paulus: ia tetap tenang, dan percaya!  Hal paling aman untuk dilakukan, saat kita berada dalam suatu badai kehidupan, adalah dengan tetap tenang, dan percaya. Sebab dengan tinggal tenang dan percaya, terletak kekuatan. (Yes 30:15)

Para pelaut memilih untuk membuang segala sesuatu ke laut, dan ini merupakan respon umum kita, tatkala kita berada dalam suatu tekanan, kita akan memilih “Mengurangi” banyak hal. Beberapa orang akan berkata “Sebaiknya aku mengundurkan diri dari ini..., Aku akan memutuskan hubungan kerja dengan ini…, Aku akan membiarkan ini, dan melepaskan itu. Seakan-akan dengan itu kita akan menghasilkan lebih banyak perubahan, dalam waktu yang sama. Tetapi kenyataannya tidak demikian! Para pelaut mencobanya, dan mereka tetap dihantam gelombang, hingga kapal itu pecah. Anda tidak membutuhkan “Pengurangan” (kecuali mengurangi perbuatan yang berdosa), tetapi sesungguhnya yang Anda butuhkan adalah ketenangan.

Mengapa Paulus begitu tenang dan tetap percaya? Karena ia dibekali dengan tiga kebenaran. Ketiga kebenaran ini,bagaikan sauh yang dapat  melabuhkan Anda pada batu stabilitas, sehingga walau badai hidup bergelora, Anda tinggal tenang, dan tetap percaya.

Pertama; Ayat 23 “Karena tadi malam seorang Malaikat dari Allah, yaitu Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya berdiri di sisiku,”

Kebenaran yang pertama ialah, bahwa Allah selalu menyertai kita.
 
Allah menyuruh utusan pribadi, untuk memberitahu Paulus. “Tetap tenang! Aku menyertaimu. Aku melihatmu dalam badai di laut Mediterania. Aku bersamamu di kapal kecil itu”

Kita belajar dari hal ini bahwa, badai bisa merintangi jalan yang hendak kita lalui, namun tidak akan pernah dapat menyembunyikan wajah kita dari Allah. Kita mungkin tidak melihat Dia, tetapi Dia melihat kita. Mungkin kita merasa Dia ribuan mil jauhnya, namun Dia beserta dengan kita, dan mengamat-amati kita.

Alkitab mencatat 365 kali, Allah berkata: “Jangan takut!” dengan kata lain, “Tetap tenang”! Dan Ia berjanji  bahwa “Aku sekali-kali tidak membiarkan engkau, dan Aku sekali-kali tidak meninggalkan engkau” (Ibr 13:5) “Aku menyertai kamu senantiasa” (Mat 28:20) Kita mungkin gagal untuk tetap bersama-sama dengan Allah, namun Allah tidak akan pernah gagal untuk menyertai kita, sampai selama-lamanya. 

Kedua;  Ayat 24 “Jangan takut Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar. Dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau dalam kapal ini, akan selamat karena engkau”

Kebenaran yang kedua ialah, bahwa Allah membela tujuan-Nya dalam hidup kita.

“engkau harus menghadap Kaisar” Inilah tujuan Allah bagi Paulus. Allah menempatkan Paulus dalam kapal itu, karena Dia ingin Paulus menghadap Kaisar. Dan ketika kapal itu diterpa badai, Dia mengutus utusan pribadi, untuk mengingatkan Paulus bahwa: “Aku punya rencana untuk hidupmu. Rencana-Ku ialah engkau akan menghadap Kaisar. Engkau akan memberitakan Injil di istana Kaisar, jangan takut! Karena Aku membela rencana itu. Karena engkau, semua orang dalam kapal ini, juga akan selamat.

Allah membela tujuan-Nya dalam hidup Anda. Dia tidak akan membiarkan kekuatan apapun untuk menghancurkan rencana-Nya. Rick Warren mencatat dengan bijak, dalam bukunya: “The Purpose Driven Life” bahwa: “Anda ada bukan karena kebetulan. Sebelum Allah menempatkan Anda, di suatu tempat dimana Anda ada sekarang, Anda ada dalam tangan-Nya. Dan Dia memilih untuk menaruh Anda disana, karena Dia punya tujuan”. Badai kehidupan, hanyalah masalah sementara di dalam tujuan tersebut. Tetapi tidak ada kekuatan eksternal apapun yang dapat mengubah tujuan utama –Nya bagi Anda. Dia akan membela Anda.

Alkitab memberitahu kita mengenai Musa. Sebelum ia dilahirkan, Firaun telah menetapkan bahwa setiap anak laki-laki yang lahir dari orang Ibarani, harus ditumpas. Mendengar itu, Allah tidak menghentikan karya-Nya. Dia terus membentuk Musa dalam rahim Yokhebeth, Dan Ia memilih menaruhkan jenis kelamin Musa, sebagai laki-laki. Anda dapat melihat bahwa, tampaknya ini adalah produk yang gagal. Tetapi Allah bukan pengecut! Dia mau Musa lahir, karena Dia punya tujuan. Dan 9 bulan 10 hari kemudian, lahirlah Musa. Dan lihatlah, bagaimana Allah membela rencana-Nya dalam hidup Musa. Yokhebeth sangat ketakutan, sehingga ia memutuskan untuk membuang anak itu di sungai Nil. Tetapi Allah mengambilnya, dan menaruhnya persis di depan mata Firaun. Seakan-akan Allah ingin mengatakan: “Aku tahu rencana pembunuhanmu Firaun, tetapi lihat ini, kalau Aku punya rencana, sehebat apapun engkau, tidak akan dapat menghancurkannya” dan Musa tinggal di istana Firaun, sampai ia menggenapi rencana Allah, tanpa disakiti oleh Firaun satu kalipun.
Kapanpun Anda berhadapan dengan suatu badai, ingatlah bahwa Allah akan membela tujuan-Nya dalam hidup Anda.
Ketiga; Ayat 25 “Sebab itu tabahkanlah hatimu saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan-Nya kepadaku”

Kebenaran yang ketiga, ialah bahwa: Allah akan melakukan seperti yang Ia janjikan.

Ketika gelombang itu semakin dahsyat, kapal itu terombang-ambing tak menentu, Allah menyuruh utusan-Nya memberitahu Paulus, bahwa “Jangan takut! Semua orang dalam kapal ini akan selamat” Inilah janji Allah kepada Paulus. Dan Allah melakukan seperti yang dijanjikan-Nya. Semua orang dalam kapal itu akhirnya selamat naik ke darat. 

Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. (Maz 12:7) Allah tak pernah berdusta! Dia setia memegang setiap Firman-Nya. Rumput menjadi kering, dan bunga menjadi layu, tetapi Firman Allah kita, tetap untuk selama-lamanya. (Yes 40:8) Bila Dia berjanji, Dia pasti akan tepati.

Dalam Alkitab ada 3 janji Allah yang terkenal mengenai masalah manusia. Pertama, Bahwa dalam setiap masalah, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Kedua, dalam setiap pencobaan, Dia selalu setia untuk memberi jalan keluar, dan ketiga, Dia pasti menjawab apabila kita berseru kepada-Nya.

Tabahkanlah hatimu!  karena walau badai menghadang, dan gelombang menerpa, Allah akan tetap setia menyertai Anda, tetap setia membela tujuan-Nya dalam hidup Anda, dan tetap setia memegang janji-janji-Nya.

“Sesungguhnya mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut, dan memelihara mereka pada masa kelaparan.” ( Maz 33:18-19)

***
 TUHAN YESUS MEMBERKATI
By: Ayub Melkior, S.Th



6 Jun 2012

LIDAH DAN KUASA PERKATAAN


LIDAH DAN KUASA PERKATAAN
Yakobus 3:1-12

Lidah manusia adalah struktur berotot yang terletak pada bagian lantai mulut, yang digunakan untuk berbicara, makan dan mencicipi rasa. Dengan bantuan organ penghasil suara lainnya, lidah berperan untuk menghasilkan huruf-huruf ketika kita bersuara. Dengan adanya lidah, kita dapat membentuk huruf-huruf yang akan diucapkan, sesuai dengan keinginan kita. Tanpa lidah, seseorang sulit dimengerti saat berbicara.

Selain itu, Allah menciptkan lidah dengan maksud agar manusia dapat memuji-Nya, berkata-kata dengan-Nya dan berkata-kata dengan sesama. Tidak peduli kapan saja, lidah dapat mengucapkan kata yang baik dan yang kotor. Oleh sebab itu, lidah perlu untuk di jaga.

Yakobus memberitahu kita tentang lidah, bahwa walaupun lidah adalah anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara besar. Lidah bagaikan api yang membakar hutan yang besar, ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Itulah sebabnya Alkitab memperingatkan kita bahwa: “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir akan ditimpa kebinasaan” (Ams 13:12)

 Mengapa Lidah atau perkataan perlu dijaga?
Ada Empat alasan “lidah perlu dijaga”:

Pertama,   Amsal 13:2aDari buah mulutnya, seseorang akan makan yang baik…”

“Perkataan Anda adalah benih yang ditaburkan dan akan berbuah mengikuti Anda”

Lidah menghasilkan perkataan, dan di  dalam perkataan, ada kekuatan yang tersimpan, yang menghasilkan “buah”, dan akan Anda nikmati dalam kehidupan. Setiap perkataan, entah yang positif, atau negatif berdampak bagi hidup. Firman Tuhan mengatakan, bahwa perkataan memberi buah kepada kita. Sebab itu, penting bagi kita, untuk berkata-kata seperti apa yang Firman Tuhan katakan mengenai kita. Bila kita lelah, katakanlah “Aku kuat di dalam Kristus”, saat tertekan, katakanlah “Dalam Kristus aku mampu tanggung segala perkara”, Jika kita berkekurangan, katakanlah “Allahku akan mencukupkan segala keperluan dan kebutuhanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya”, saat kita sakit, katakanlah “Oleh bilur-bilur-Nya Aku sembuh”!

Memperkatakan Firman Tuhan akan membentuk kehidupan kita, dari yang tidak ada, menjadi ada, yang tidak tahu menjadi berhikmat, yang lemah menjadi kuat, yang sakit menjadi sehat, dan yang tidak mampu menjadi bisa. Selalu ada buah dalam perkataan kita. Oleh sebab itu, Jika Anda menginginkan yang baik, maka memperkatakan hal-hal yang baik, adalah kunci mengalami yang baik.

Jika ada bagian-bagian dalam hidup Anda, yang membutuhkan perubahan, ucapkanlah “senjata kebenaran” yaitu Firman Tuhan. Hal itu akan membawa perubahan dalam hidup Anda. Ucapkanlah apa yang dijanjikan Tuhan tentang Anda, dan Tuhan akan memanifestasikannya dalam hidup Anda.

Kedua, I Petrus 3: 8-10 “…..Siapa yang mau mencintai hidup, dan mau melihat hari-hari baik ia harus menjaga lidahnya…..”

Perkataan Anda,  menentukan hidup Anda berhasil atau terkutuk”.

Perkataan sama seperti doa kita. Kebenaran, kebaikan, dan kesucian, yang kita katakan melalui mulut, akan mendatangkan berkat bagi kita. Sebaliknya kenajisan, kejorokan, kekwatiran, dan kesalahan yang kita ucapkan, akan mendatangkan kutuk dalam kehidupan.

Pada saat perkataan berkat diucapkan, berkat itu mengembang menjadi suatu tudung, yang menyulubungi kita di dalamnya, sehingga hidup kita selalu berada dalam situasi berkat Allah. Demikian juga dengan kutuk. Disaat suatu perkatan yang mengandung kutuk diucapkan. Kutuk itu akan menjadi seperti racun yang menyebar ke seluruh saraf, sehingga ia akan melemahkan kehidupan kita, dan pada akhirnya mencelakai kehidupan kita. Itulah sebabnya Alkitab berkata: “Hidup dan mati dikuasai lidah. Siapa menggemakannya, akan memakan buahnya” (Ams 18:21)

Gemakanlah perkataan yang baik, agar kehidupan kita berada dalam lingkupan berkat Allah, maka sepanjang kehidupan, kita akan mengalami dan menikmati yang baik. Jagalah bibir mulut Anda dari perkataan yang jahat, dan mengutuk, supaya hidup Anda jangan berada dalam penderitaan dan kutuk. 

Ada beberapa cara menjaga lidah kita. Pertama, sebelum Anda mengatakan sesuatu, pikirkanlah bahwa Benarkah apa yang saya katakan ini? Banyak perkataan yang enak di dengar, namun itu berasal dari informasi yang tidak benar. Kedua, pantaskah apa yang saya katakan ini? Banyak perkataan sesuai dengan situasi untuk diucapkan, namun sebenarnya tidak pantas untuk diutarakan. Misalnya kita melihat seseorang yang sering sakit, adalah tidak pantas kita berkata: “kamu selalu penyakitan” Ini akan melukai hatinya. Ketiga, pentingkah apa yang saya katakan ini? Terkadang ada hal yang nyata, namun tidak penting untuk dikatakan. Dan yang keempat, bergunakah apa yang saya katakan ini? Banyak perkataan yang sebenarnya tidak berguna untuk dikatakan. Dengan proses empat langkah ini, kita dapat menjaga lidah kita dari setiap perkataan yang sia-sia.

Ketiga, Bilangan 14:28 “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah Firman Tuhan, bahwasannya seperti yang kamu katakana di hadapan-Ku, demikianlah akan Ku lakukan kepadamu”

Alasan ketiga, mengapa perkataan perlu dijaga?
 “Karena Allah memperlakukan kita, sesuai dengan apa yang kita katakan ”

Bentuk penghargaan kita kepada perjanjian Allah, adalah dengan mengeluarkan perkataan yang sesuai dengan Firman-Nya.

Pada saat bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Allah berjanji akan membawa mereka ke Negri yang penuh dengan susu dan madu. Kendatipun demikian, harapan-harapan bangsa Israel kepada Allah,  menjadi luntur lantaran tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Lalu dengan sungut-sungut mereka menatap Musa dan berkata: “Lebih baik kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapa kamu membawa kami ke negri ini supaya kami tewas oleh pedang?” Dan Alkitab memberitahu kita bahwa Allah memperlakukan mereka seperti yang mereka katakan. Dari angkatan yang keluar dari tanah Mesir, semuanya tewas di padang gurun, kecuali Yosua, dan Kaleb.

Pada saat kita ada dalam sebuah pergumulan, biasanya kita tergoda untuk mengatakan sesuatu. Pertimbangkanlah ini! Bahwa Allah akan memperlakukan kita seperti apa yang kita katakan. Perkataan kita selalu didengar oleh telinga yang Maha Kuasa. Dan apa yang kita katakan, akan menggerakkan tangan Tuhan untuk melakukannya kepada kita.

Keempat, Matius 12: 36-37 “…..Setiap kata-kata yang sia-sia, yang diucapkan orang harus dipertanggung jawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum”

Alasan yang keempat mengapa perkataan perlu dijaga?
“Karena setiap perkataan, dipertanggung jawabkan bahkan diakhirat”.

Allah akan meminta,  setiap kita mempertanggung jawabkan perkataan kita di hadapan-Nya. Kita semua tentu akan meninggalkan dunia ini, dan pada saat kita berada di hadapan Allah untuk dihakimi, setiap kita akan diminta untuk bertanggung jawab atas apa yang telah kita katakan selama hidup di dunia. Berapa banyak kita berkata-kata selama kita hidup di dunia akan dihitung oleh Allah. Tiada satupun kata yang telah kita ucapkan, baik terhadap diri kita sendiri, terhadap orang lain, maupun terhadap Tuhan, yang tidak akan dibukakan. Semuanya akan terpampang di hadapan Allah. “Mengapa” kita mengatakan itu, dan “Untuk apa” kita katakan itu, akan ditanyakan oleh Allah. Dan Allah akan meminta kita untuk memberikan pertanggungjawaban atas setiap perkataan itu. Bila kita telah mengatakan yang baik, maka kita akan diperlakukan baik, dan jika kita telah mengatakan yang jahat, maka kita akan dihukum, sesuai apa yang kita katakan.

Oleh sebab itu, perkataan kita selama hidup, merupakan bagian penting dari kehidupan. Seperti apa kita ingin hidup baik di hari ini, maupun di hari yang akan datang, sama pentingnya dengan apa yang kita katakan  setiap hari. Karena itu menjaga lidah kita setiap hari, adalah cara terbaik memelihara hidup. 



***
TUHAN YESUS MEMBERKATI

By: Ayub Melkior,  S. Th

26 Mei 2012

PENTINGNYA HIKMAT


                                                          
Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah Hikmat” -PKH : 10:10-

         "You have Power in your hands when you have wisdom in your mind"

Sebuah kisah mencatat mengenai seorang pria tua yang hidup dengan kedua anaknya. Sebelum meninggal, ia membagikan sejumlah uang kepada kedua anaknya dan berpesan: “Gunakan uang ini baik-baik! Jadikan uang ini sebagai modal usaha, supaya engkau menjadi orang berhasil. Tetapi ingat pesanku ini: Jangan sampai kepalamu terkena sinar matahari” Setelah ia meninggal, kedua anaknya menggunakan uang tersebut, untuk mendirikan usaha.

Mengingat pesan Ayahnya, setiap hari anak yang pertama datang dan pulang dari tempat usahanya, dengan membawa payung. Ia berusaha melindungi kepalanya supaya jangan terkena sinar matahari, dengan demikian maka ia akan berhasil. Tetapi kenyataannya, ia bukan berhasil, melainkan usahanya menjadi bangkrut. 
Sedangkan adiknya berbeda, dalam memaknai pesan Ayahnya. Ia tidak mau membeli payung, atau pelindung apapun untuk melindungi kepalanya dari sinar matahari. Setiap hari ia datang pagi-pagi buta ke tempat usahanya, ia mengerjakan segala sesuatu hingga malam hari, barulah ia kembali ke rumah. Dengan cara ini, ia telah melindungi kepalanya sehingga sama sekali tidak terkena sinar matahari.
            "Menjadi orang berhasil", adalah dambaan semua orang. Namun supaya benar-benar berhasil, tidak cukup hanya dengan Ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan hikmat dan kebijaksanaan. Kita bisa menemukan diri kita berpendidikan tinggi, tetapi kurang menghasilkan sesuatu. Persoalan dari hal ini, bukan karena kita bodoh, tetapi karena kita kekurangan hikmat. Itulah sebabnya Firman Tuhan berkata: “Yang terpenting untuk berhasil ialah hikmat”

Apa itu Hikmat, sehingga Alkitab berkata ia begitu penting?

            Ada Tiga pengertian hikmat dalam Alkitab, yaitu pengertian secara Teknis, pengertian secara Intelektual dan pengertian secara Rohani.

Secara Teknis, hikmat adalah keahlian yang dikaruniakan Allah untuk mengerjakan sesuatu dengan sempurna (Kel 31:3) Talenta, keunggulan, dan keahlian Anda terhadap sesuatu, adalah Hikmat yang dikaruniakan Allah kepada Anda, dan dengan mengembangkannya, Anda akan terkejut bahwa  ternyata Anda bisa berhasil.

Coba tanyakan Michael Jackson, mengapa ia benar-benar berhasil menjadi “The King Of  Pop?” Ia menjawab pertanyaan ini dalam ruang wawancara, bahwa ia berhasil karena ia menyadari, menghargai, mengembangkan, dan mengunakan talenta dan keahliannya.
Coba tukarkan peran Michael Jackson dengan Gilbert Loimondong. Mintalah Jackson untuk berkhotbah, dan biarkan Gilbert bernyanyi serta menari di panggung. Bisakah keduanya benar-benar berhasil??? belum tentu! Mengapa? Jawabanya adalah: Karena itu bukan keahliannya.

Hikmat adalah keahlian yang dikaruniakan Tuhan kepada seseorang. Dan semua orang memiliki jenis hikmat ini. Itulah sebabnya entah orang berdosa atau orang kudus bisa berhasil jika ia menggunakan talenta dan keahliannya. Tuhan telah memberikan talenta dan keahlian kepada tiap-tiap orang, sesuai kemampuan kita masing-masing. Persoalannya adalah apakah kita menyadarinya, mengharagainya, mengembangkannya dan menggunakannya? Tanyakan diri Anda sendiri! 

Secara Intelektual, hikmat adalah kemampuan menyusun rencana yang benar dan cara yang tepat untuk memperoleh hasil yang dikehendaki (Kej 41:39). Jenis kemampuan ini disebut kebijaksanaan.
Suatu hari, Ayah meminta saya untuk memasukan tempat tidur yang besar ke kamar tamu. Lalu saya mengajak teman untuk membantu memindahkan benda tersebut. Kami mengangkat tempat tidur itu dengan santai karena ringan. Namun saat kami ingin memasukannya ke dalam kamar, ternyata kami kesulitan. Pintu kamar terlalu sempit sehingga benda itu tidak bisa masuk. Kami tegang memegang tempat tidur itu, hingga kami lelah dan kami melepaskannya di bawah. 
Melihat tempat tidur itu belum dipindahkan, Ayah berkata: “Mengapa belum juga dipindahkan?” saya menjelaskan bahwa: “Pintu kamar itu terlalu kecil, sehingga tempat tidur besar ini tidak bisa masuk” Lalu Ayah saya berkata: “Oke, sekarang coba lagi”. 
Sekali lagi kami menggotong benda itu dan kami mendekatkannya ke pintu kamar. Setelah itu Ayah berkata, caranya miringkan tempat tidur itu dan masukan terlebih dahulu kaki tempat tidur itu, kami mengikuti petunjuknya, dan tempat tidur itu berhasil dimasukan ke dalam kamar melalui pintu yang sempit. 
Mengapa benda yang besar itu bisa masuk melalui pintu yang sempit? Jawabannya adalah: Karena kami menggunakan cara.
 
Hikmat adalah kemampuan menyusun cara untuk memperoleh hasil yang dikehendaki. Persoalan seringkali kita menunda untuk melakukan sesuatu yang membaikkan hidup kita ialah, karena kita kekurangan hikmat. Kita tidak tahu bagaimana caranya. Namun dengan kebijaksanaan, kita bisa berhasil.

Secara Rohani: Hikmat adalah pengetahuan yang dikaruniakan Allah (1 Kor 12: 8) untuk mengenal Allah dan menyelami karya Allah di dalam diri kita (1 Kor 1:20,21, Ef 1:17); untuk memecahkan persoalan yang rumit, yang supranatural dan yang tidak dapat terselami oleh akal manusia (Kej 40-41; 1 Raja 3; Dan 2,)
Suatu hal yang seringkali membuat kita kalah, gagal, rugi, kecewa, ialah bahwa kita tidak tahu apa yang Allah mau kita lakukan di antara setumpuk hal yang kita anggap baik. Hikmat adalah pengetahuan tentang apa yang Allah mau untuk kita lakukan. Hal ini termasuk suatu karunia, yang boleh dimiliki oleh semua orang, tetapi tidak semua orang telah memilikinya. Manusia memerlukan hikmat untuk dapat mengenal Penciptanya dengan benar (Ef 1:17), untuk dapat mengerjakan sesuatu seperti yang Tuhan mau (Kel 31: 3) dan untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam situasi yang sulit (I Raj” 3:9, 24).

Firman Tuhan memberitahu kita bahwa hikmat bukan hanya bagian yang baik bagi kehidupan, melainkan Hikmat adalah bagian yang terpenting dalam kehidupan. “Memperoleh hikmat, sungguh jauh melebihi memperoleh emas dan memperoleh pengertian, jauh lebih berharga dari pada mendapatkan perak.”(Ams 16:16)Untuk gantinya tidak dapat diberikan emas murni dan harganya tidak dapat ditimbang dengan perak. Ia tidak dapat dinilai dengan emas Ofir, ataupun dengan permata krisopras yang mahal atau dengan permata lazurit, tidak dapat diimbangi oleh emas atau kaca, ataupun ditukar dengan permata dari emas tua. Baik gewang, baik hablur, tidak terhitung lagi. Memiliki hikmat adalah lebih baik dari pada mutiara.” (Ayub 28:15-18)
Dengan hikmat seorang budak bisa menjadi orang berhasil,(Yusuf) dengan hikmat seorang pemuda bisa menjadi pemimpin,(Daniel) dengan hikmat seorang kanak-kanak bisa mengajar para ahli (Yesus), dan dengan hikmat satu orang bisa mengatur jutaan orang (Salomo), sebab itu “Yang terpenting untuk berhasil ialah Hikmat

Pertanyaan yang penting sekarang adalah: Bagaimana Saya memperoleh Hikmat?
Ada 4 cara agar kita memperoleh Hikmat Allah:

Pertama, Yak 1:5 “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah…”

Jadi cara pertama untuk memperoleh hikmat ialah, dengan meminta kepada Allah. “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian”(Ams 2:6). Rasul Paulus berdoa kepada Allah dan meminta, agar Allah memberikan hikmat kepada jemaat di Efesus (Ef 1:16-17), Salomo berdoa dan meminta Hikmat dari Allah, dan Allah memberikan hikmat kepada Salomo (I Raj” 3:9). Kita perlu memintanya dari Allah, karena Dialah sumber segala hikmat.
                                                                                                          
Kita boleh, untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan, tetapi untuk memperoleh hikmat, kita perlu merendahkan hati, dan memintanya dari Allah. Berdoalah dan minta hikmat dari Tuhan. Karena dengan hikmat kita tahu cara, untuk menggunakan ilmu pengetahuan kita.

Kedua, Ayub 28:28 “Tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya takut akan Tuhan ialah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi”
                                                      
Cara kedua untuk memperoleh hikmat ialah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan ialah menghormati Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Beberapa orang takut kepada Tuhan, tetapi tidak takut akan Tuhan. Mereka berpikir, “Aku orang berdosa, dan Aku tidak boleh mendekat kepada Tuhan. Sudahlah, tidak perlu beribadah, karena aku jahat."

Kita tidak perlu menjauh dari Tuhan, karena takut kepada Tuhan, tetapi yang kita perlu ialah menghormati Tuhan. Rasa hormat kepada Tuhan, menjauhkan diri kita dari kejahatan. Sebelum kita berkata Ya! Untuk menghormati Allah, sampai kapanpun, kita tidak akan mampu berkata “Tidak” terhadap kejahatan.

Orang saleh dalam Alkitab, seperti Henokh, Nuh, Ayub, mereka dapat menjauhi kejahatan, bukan karena mereka hebat, melainkan karena mereka punya hubungan yang dekat dengan Allah. Itulah sebabnya mereka punya rasa hormat yang besar kepada Allah, sehingga walaupun semua orang berbuat jahat, mereka tetap berkata “Tidak” terhadap kejahatan. Inilah yang disebut takut akan Tuhan.

Kita perlu mendekat kepada Allah, supaya kita punya rasa hormat terhadap Allah, dengan demikian kita mampu menjauhi kejahatan. Dan ketika kita punya rasa hormat kepada Allah, yang mempengaruhi sampai perbuatan dan perilaku kita, maka Tuhan akan memberitahu kita hal-hal yang tersembunyi. Maz 25:12 berkata: “Siapa orang yang takut akan Tuhan, kepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya” dan Maz 25:14 berkata: “Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka”

Daniel lebih menghormati Tuhan ketimbang raja Nebukadnezar. Ia memilih menghormati Tuhan, dan menolak untuk menajiskan dirinya dengan santapan raja (Dan 1:8),  dan Allah mengaruniakan kepadanya hikmat, sehingga ia bisa menjelaskan kembali mimpi raja Nebukadnezar, sekaligus mengartikan mimpi tersebut.
Disaat kita memilih untuk menghormati Allah, kita akan mampu menolak kejahatan, dan upahnya ialah Allah memberi kita hikmat.

Ketiga, Dan 6: 11 “Demi didengarnya Daniel, bahwa surat perintah itu telah di buat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya, ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa dan  memuji Allahnya, Seperti yang biasa dilakukannya
                                                               
Cara ketiga untuk memperoleh hikmat ialah, dengan terbiasa sujud menyembah Allah dalam doa dan penyembahan. Daniel biasa berlutut, berdoa, dan memuji menyembah Allah tiga kali sehari, dan Allah memberikan hikmat kepada Daniel, sehingga ia sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang berilmu (Dan 1:20).
Semakin sering kita sujud menyembah di hadapan Tuhan, dalam doa dan pujian penyembahan, wawasan kita tentang Allah akan semakin diperluas. Allah akan membuka rahasia-rahasia-Nya kepada kita, sehingga kita akan menjadi orang yang cerdas dan berhikmat.
Orang-orang yang bersekutu dengan Allah dalam doa dan penyembahan, biasanya tahu apa yang tidak dapat diajarkan oleh ilmu pengetahuan. Mereka bisa tahu kita sedang bermasalah, mereka bisa tahu kita sedang susah, bahkan mereka bisa tahu kalau kita sedang berdosa. Mengapa? Karena Allah yang memberitahukannya kepada mereka.
Selain Yesus, hamba-hamba-Nya Allah, seperti Musa, Yeremia, Yesaya, mereka bisa memberitahu apa yang akan terjadi di masa depan, karena mereka suka bersekutu dengan Allah.
            Melalui Doa dan Pujian penyembahan kepada Allah, suara kita semakin terdengar di Sorga, sehingga Allah menjadi karib dengan kita, dan pengetahuan-pengetahuan-Nya, diberikan-Nya kepada kita.  
Sisihkanlah menit-menit Anda untuk sujud menyembah Tuhan dalam doa dan pujian, maka engkau akan terkejut mendapati dirimu lebih cerdas dari orang lain.

Keempat, “Aku lebih berakal budi dari semua pengajarku, sebab peringatan-peringatanmu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari orang-orang tua sebab aku memegang titah-titah-Mu” (Maz 119: 99-100)
                                                  
Cara Keempat untuk memperoleh Hikmat ialah dengan membaca dan merenungkan Firman Allah. Daud berkata: “Aku lebih berakal budi dan aku lebih mengerti, sebab aku merenungkan peringatan-peringatan-Mu dan memegang titah-titah-Mu” Daud mempelajari Firman Allah, dan menjadikannya sebagai isi pikirannya, serta gaya hidupnya. Allah telah mengilhami orang-orang-Nya yang Ia pilih melalui Roh Kudus, untuk menuliskan kepada kita Apa yang Allah mau di dalam Alkitab. 

Alkitab adalah Firman Allah, yang memberitahu kita mengapa kita hidup, bagaimana kehidupan berjalan, apa yang harus dihindari dan apa yang akan terjadi pada masa depan. Dengan membaca dan merenungkan Firman Allah, kita akan tahu Peta perjalanan hidup kita, sehingga kita tidak tersesat. Daud memuji Firman Allah dengan berkata: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Maz 119:105)

            Ketika Yosua menerima tanggung jawab untuk memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan, perintah penting yang tidak boleh ia abaikan ialah: “Janganlah engkau lupa memperkatakan Taurat itu siang dan malam, tetapi renungkanlah itu siang dan malam”
Allah mengerti bahwa dengan membaca dan merenungkan Firman-Nya, manusia akan tahu apa yang harus ia perbuat. 
Selanjutnya dari ayat ini berkata: “ Supaya engkau bertindak hati-hati.” Bertindak hati-hati, dalam bahasa asli yaitu Ibrani, juga mengandung arti supaya engkau bertindak dengan bijaksana. Jadi dengan mempelajari dan merenungkan Firman Tuhan, seseorang dapat bertindak dengan hikmat dan kebijaksanaan. 
Kalimat selanjutnya dari ayat ini berkata: “Dengan demikian, perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung” Hikmat akan menjadikan seseorang berhasil. Itulah sebabnya Pengkhotbah 10:10 berkata: “Yang terpenting untuk berhasil ialah Himat

Buatlah suatu komitmen untuk mempelajari dan merenungkan Firman Tuhan. Belajarlah untuk mengucapkannya atau menjelaskannya kepada orang lain karena itu akan menolong Anda supaya Anda tidak lupa. Semakin banyak Anda mempelajari Firman Tuhan, wawasan Anda akan bertambah tentang cara kerja Allah, prinsip-prinsip Allah, dan agenda-agenda-Nya, sehingga Anda dapat bertindak sesuai apa yang tertulis dengan penuh kebijaksanaan.


***
TUHAN YESUS MEMBERKATI
By: Ayub Melkior S.Th
                                                                     

18 Mei 2012

MENGATASI DEPRESI

I Raja-raja 19
Depresi adalah gangguan pada jiwa seseorang, yang mengakibatkan tekanan, kelesuan, kesedihan, dan kemerosotan. Depresi termasuk dalam kategori masalah besar di dunia. Ia disebut penyakit “Flu emosional”. Semua orang pada waktu tertentu bisa terkena depresi. Orang-orang kudus sekalipun terkenal mengalami depresi, dan Elia hanyalah satu contoh.

            Alkitab memberitahu kita bahwa Elia adalah nabi Allah yang luar biasa. Melaluinya Allah telah melakukan banyak mujizat, kebangunan rohani, dan terobosan berkat atas bangsanya. Tetapi ada satu orang yang tidak menyukai Elia. Ia adalah Izebel. Setelah Elia melakukan sebuah mujizat yang besar, Ahab, suami Izebel menceritakan kepada istrinya semua yang telah diperbuat oleh Elia. Izebel benci Elia. Ia sangat marah dan menyuruh seorang utusan menyampaikan pesan kepada Elia bahwa; “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu” Maksud Izebel adalah: “Jika aku tidak membunuhmu dalam waktu 24 jam, aku siap membunuh diriku sendiri”. Dan inilah Elia,  yang tidak pernah merasa takut selama tiga tahun, ketika seorang wanita mengacam nyawanya, ia menjadi takut, lalu lari ke padang gurun, dan bersedih. Di bawah pepohonan, ia berdoa supaya ia mati. Elia terkena depresi!. Alasan tertekannya jiwa Elia, dikarenakan cara berpikir yang salah.

Mengapa Elia begitu tertekan, sehingga tiba-tiba meminta agar lebih baik ia mati saja? Karena ia memainkan permainan Empt mental.

Pertama; Ayat 3: “Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya”

Elia tiba di bawah pohon Arar, dan berdoa: “Tuhan, sudahlah! Lebih baik aku mati saja. Aku tidak mau lagi berusaha dengan ini. Aku muak dengan semua ini. Aku berusaha menjadi hamba-Mu, tetapi tidak seorangpun melakukan yang benar. Aku hanya menyia-nyiakan hidupku, aku gagal, sekarang aku menyerah”
Permainan mental pertama. Yang mengusung Elia masuk dalam kekacauan ini adalah, Elia berfokus pada perasaan-perasaan, dan bukan pada fakta.

        Berfokus pada perasaan-perasaan dan bukan pada fakta, selalu akan mengakibatkan depresi. Kita berkonsentrasi pada bagaimana kita merasa, dan bukan pada kenyataan. Elia merasa gagal, dan ingin mati saja, karena sebuah peristiwa yang membuatnya takut. Mengapa ia lari? Karena ia merasa bahwa ia gagal, karena itu ia berpikir ia telah gagal. Saya menyebut ini sebagai “Memberi alasan secara emosional” konsepnya adalah “Aku merasakananya, jadi  aku yakin itu pasti benar” Dan ini menghancurkan siapapun.

        Para musisi, olahragawan, dan bintang-bintang film, sering berkata, setelah menyelesaikan sebuah pertunjukan mereka merasa seakan-akan gagal. Namun mereka tahu, bahwa mereka juga harus mengabaikan perasaan-perasaan tersebut. Perasaan tidak selalu benar, perasaan bukan fakta.
Saat Anda merasa Allah tidak Ada dengan Anda, itu tidak berarti Allah benar-benar sirna dari jagat raya. Dia ada, bahkan disaat Anda menghianati-Nya. Dia hanya memalingkan wajah-Nya dari Anda, tetapi Dia masih ada dengan Anda.
        Perasaan seringkali berdusta. Jadi jangan berfokus pada perasaan, tetapi pada fakta, atau kebenaran. Saat Anda kurang dalam suatu bidang, Anda tidak benar-benar gagal menjadi suatu pribadi. Itulah sebabnya Yesus suka berkata: “Kamu akan tahu kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32) Pikirkanlah kebenaran, fakta, dan bukan perasaan. Saat Anda menyusuri suatu lorong kegelapan dalam hidup, dan tiada seorangpun tahu, apa sesungguhnya yang sedang meletihkan anda, saat Air mata Anda membanjiri pipi Anda, karena semua orang memalingkan wajahnya dari Anda, berpeganglah pada kebenaran, fakta, dan jangan pada perasaan Anda.

Kedua,  Ayat 4 “Cukuplah itu! sekarang ya Tuhan, ambilah nyawaku, sebab aku tidak lebih baik, dari nenek moyangku
Permainan mental kedua yang dibuat oleh Elia, ialah, Karena ia mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.

       Elia merasa ia tidak lebih baik dari orang lain, sebab itu ia berpikir bahwa ia sama saja seperti orang lain. Ini adalah kekeliruan. Allah menciptakan kita unik. Kita tidak sama. Hanya Anda yang menjadi seperti Anda. Dan Allah menyukai itu.
Kebanyakan dari kita telah jatuh ke dalam jebakan pikiran. Saat kita merasa tidak terlalu baik dalam suatu bidang, kita tergoda untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. “Seandainya aku bisa seperti dia, aku akan bahagia”
Disaat Anda mulai membandingkan diri Anda dengan orang lain, Anda sedang menginginkan depresi. Alkitab berkata bahwa hal itu berbahaya, karena tidak bijak. “Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada, atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memuji diri sendiri” (2 Kor 10:12a) Ketika kita  mulai  membandingkan diri dengan orang lain, kita cenderung mengkritik kekurangan-kekurangan kita, karena kelebihan-kelebihan orang lain. Kita lupa bahwa orang-orang itu juga mempunyai bagian yang lemah, dimana kita lebih kuat di dalamnya. Keluhan tidak membawa hasil, demikian juga dengan kritikan. Hal itu hanya akan mendatangkan tekanan batin. Semakin Anda mengkritik suatu kekurangan, semakin Anda kehilangan kekuatan. Anda menjadi merosot, tak bergairah, dan kehilangan harapan.
      Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. Ingatlah bahwa dalam suatu kekuatan, selalu ada suatu kelemahan. Jika Anda selalu berusaha meniru orang lain, dan “mencambuk” diri Anda untuk menjadi seperti mereka, Anda akan depresi."Tak perlu merasa dirimu kurang baik dari orang lain, karena bagi seseorang kamulah yang terbaik dari orang lain"
Ketiga, Ayat 10 “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu, dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang”
Permainan mental ketiga yang Elia lakukan adalah, Karena ia ingin mengendalikan apa yang ada diluar kendalinya.

       Elia menatap Allah dan berkata: “Allah Engkau lihat, bahwa aku telah bekerja keras selama tiga tahun, tetapi tetap saja mereka sedikitpun tidak lebih dekat dengan-Mu. Aku sudah benar-benar berusaha, tetapi mereka tetap masih sama seperti sebelumnya” Elia menyalahkan diri sendiri, karena hal yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Allah memilih Elia untuk menjadi penyambung lidah-Nya, menyampaikan apa yang Allah ingin sampaikan, dan bukan untuk “Memproduksi” orang-orang yang taat kepada Allah. Ini bagian Allah! Tugas Elia hanya menyampaikan, dan melakukan apa yang Allah perintahkan, selanjutnya adalah bagian Allah. Mengubah orang-orang menjadi lebih baik, bukanlah tanggung jawab kita. Itu kehendak Allah, karya Allah, perbuatan Allah. Bagian kita hanyalah melakukan apa yang Allah minta kita lakukan, dan menyampaikan apa yang Allah minta kita sampaikan.

        Jika Anda menolong orang lain, cepat atau  lambat Anda akan menyadari bahwa orang-orang tidak merespon seperti yang Anda harapkan. Anda bangun pagi, dan masuk ke kamar doa untuk berdoa, dan Anda mengharapkan seisi keluarga bangun tepat waktu untuk berdoa bersama. Namun mereka selalu terbelakang, bahkan tidak terlibat. Anda tidak perlu merasa bersalah atau gagal atas respon mereka. Ingatlah bahwa Allah telah memberikan kehendak bebas, dan setiap orang berhak untuk mengambil sebuah keputusan, dan Anda tidak perlu bertanggung jawab atas keputusan mereka. Jika Anda mengambil tanggung jawab yang Allah tidak pernah maksudkan untuk kita, Anda akan depresi.
Salah satu dusta iblis ialah mendorong mitos “Anda bertanggung jawab atas perubahan hidup seseorang”. Allah bukan Anda, dan Anda bukan Allah. Sedetik sajapun, Allah tidak akan mengijinkan Anda untuk menggantikan-Nya menjadi Allah. Lakukanlah bagian Anda, dan jangan merasa bersalah atas apa yang diluar kendali Anda.

Keempat; Ayat 10b “Hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku”
Permainan mental keempat yang Elia lakukan ialah, Membesar-besarkan sesuatu yang negatif.

        Elia memberitahu Allah bahwa, “Semua orang menentang aku, tidak ada lagi yang sependapat dengan aku. Mereka yang mendukung aku telah terbunuh, dan sekarang aku sebatang kara” Ia membesar-besarkan suatu kabar buruk. Tetapi faktanya, tidak semua orang menentang dia. Hanya satu orang saja, yaitu Izebel. Dan apa yang ia dengar hanyalah sebuah ancaman. Seandainya Elia memikirkan hal itu, dan bukannya berfokus pada perasaannya, dengan segera ia akan menyadari bahwa, Ezebel tidak benar-benar ingin membunuhnya. Benar Ratu itu mengirim seorang utusan dengan pesan ancaman, tetapi jika Izebel benar-benar ingin membunuh Elia, ia tidak akan mengirim peringatan, ia pasti mengirim seorang pembunuh. Izebel membenci Elia, sebagian karena pengaruhnya yang besar. Adalah kebodohan bagi ratu untuk membunuh Elia, karena peristiwa itu akan dianggap martir, dan hal itu meningkatkan pengaruh Elia. Izebel cerdik, untuk menyingkirkan Elia. Ia hanya ingin membuat Elia tampak seperti seorang pengecut di hadapan bangsa Israel. Dengan demikian Elia dipermalukan, dan pengaruhnya memudar.
      Tetapi Elia membesar-besarkan hal ini. Ketika ia menerima pesan tersebut, Ia tidak berhenti sejenak untuk mengevaluasi ancaman itu, ia langsung melarikan diri. Membesar-besarkan sesuatu yang negatif, akan menjadikan kita tampak seperti seorang pengecut. Hal itu akan menyebabkan tekanan, ketakutan, dan perasaan tak berguna. Saat Anda dalam suatu masalah, tenangkan hati Anda, dan cobalah untuk mengevaluasi apa tujuan dari masalah itu. Lihatlah segala sesuatu dari cara pandang yang benar, jangan melebih-lebihkan suatu situasi. Ingatlah, bahwa seberat apapun masalah yang Anda hadapi, Allah tidak mengharapkan Anda melarikan diri. Evaluasilah masalah Anda, temukan kebenaran-kebenaran dari tujuan masalah tersebut, dan ambilah sikap yang Allah harapkan Anda lakukan.

***
TUHAN YESUS MEMBERKATI
By: Ayub Melkior S.Th